BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

waktuku hari ini


Get your own Digital Clock

Selasa, 19 November 2013

Ada Apa dengan SDN Rangkah 7 Surabaya?

Beberapa hari lalu Outlock Surabaya salah satu acara di SBO-TV mendiskusikan kasus di SDN Rangkah 7 Surabaya. Orang tua murid   sekolah tersebut marah karena salah satu guru di sekolah tersebut yang bernama  Lestariyono telah melakukan perbuatan tidak terpuji. Perbuatan asusila yang sama sekali tidak layak bila dilakukan guru. Yono memperlakukan siswa dengan perilaku tidak pantas seperti mencium (ada yang sempat membekas di bibir), meraba pantat, dan membuka pakaian bagi siswi bernilai kecil/jelek (sumber JPNN/13Nov.2013). Atas perbuatan yang "nylenehnya"  Yono sudah diberi sanksi menjadi staf UPTD-BPS Surabaya 3 yang berkantor di Mulyorejo. 

Malam ini secara tak sengaja saat menikmati ronde yang dibeli di ujung tol Simo remot kembali ke SBO TV. Ternyata ada tayangan acara diskusi dengan tema yang sama yaitu terkait Yono guru SDN Rangkah 7 Surabaya.. Menurut saya kali ini  lebih heboh disamping ada  Isa Ansori dari Dewan Pendidikan Kota Surabaya,  Yoris dari LSM (saya lupa nama LSM-nya) yang jelas LSM yang peduli kepada anak,  Baktiono anggota DPR Kota Surabaya,  Tri  orang tua siswa kelas IV SDN Rangkah 7 (kedua terakhir via line telepon). Semakin heboh karena  ada tayangan  gambar saat  rapat penyelesaian kasus ini di Dinas Pendidikan Kota Surabaya (pagi tadi)  berkali-kali muncul. 

Dalam diskusi yang berlangsung sepertinya ada gelombang besar yang  mendesak agar kasus ini tidak hanya diselesaikan dengan sanksi dari SKPD terkait tetapi harus diangkat ke ranah hukum. Beberapa catatan yang mengharapkan kasus Yono masuk ranah hukum:

  1. Dua kali  pembawa acara (OS-SBO-TV) mengatakan, "Sebagai orang awam akan mengatakan ..... enak dong kalau begitu jadi guru saja ...... ." ( kalau melakukan pencabulan tidak dihukum ...mungkin itu maksudnya).
  2. Yoris, "Kalau tidak diangkat ke ranah hukum maka akan muncul Yono-Yono yang lain."
  3. Tri mengatakan, "Yono harus ditindak tegas karena sekarang pun anak yang di kelas IV sudah merasa takut kepada guru laki-laki."
  4. Baktiono, "Para orang tua korban keberatan bila diangkat ke ranah hukum. Mereka tidak tega bila anak-anaknya harus bolak-balik ke kator polisi atau mungkin pengadilan."
  5. Permintaan alat lie detector oleh pembawa acara kepada Baktiono agar DPR menganggarkan untuk membeli alat ini.


Dari 5 catatan yang ada sama sekali tidak ada yang berusaha bagaimana memberikan  tindak lanjut penanganan yang efektif untuk anak-anak yang menjadi korban. Hal ini penting karena akan menimbulkan trauma berkepanjangan bagi korban. Saya sepakat dengan Isa Ansori yang mengatakan bahwa saat seorang anak pernah menjadi korban pelecehan seksual oleh orang dewasa dan anak tersebut tidak mengalami perubahan perilaku setelahnya, dikhawatirkan anak mengalami perasaan "ikut menikmati" dan ini akan berdampak ke depan ia akan rentan terhadap eksploitasi dirinya. Kondisi ini tidak boleh terjadi. Hal penting yang harus segera dilakukan adalah segera adakan pendampingan oleh profesional kepada para korban.

Pendampingan ini juga harus dilakukan kepada siswa bukan korban karena sudah ada gejala bias trauma ke kelas lainnya seperti yang diungkapkan Tri orang tua siswa. Dikhawatirkan bias trauma  tidak hanya menyebar di internal SDN Rangkah 7 tetapi  sudah meluas di sekolah lain. Ada gejala juga para siswa menjadi takut dengan guru laki-laki. Sekolah harus memberikan rasa nyaman kepada semua siswanya. Jangan biarkan siswa dalam kondisi ketakutan saat di sekolah. harapan kita "sekolah ramah anak" bukan hanya slogan indah tanpa makna.

Saat diskusi berlangsung ada SMS masuk yang dibacakan oleh pembawa acara. SMS itu berasal dari orang tua siswa kelas VI yang menceritakan bahwa kepala SDN Rangkah VI mengatakan, "Sudah puas? Akan melaporkan ke mana lagi?" Ada nuansa marah. Satu hal yang wajar bila kepala sekolah marah. Tugas kepala sekolah sudah cukup berat bila mendapat tekanan lain menjadi lebih emosional. 

Sekalipun ada beberapa orang tua murid tidak sependapat  kalau Yono hanya mendapat sanksi dinas saja tetapi Baktiono  tetap tidak menngangkat kasus ini ke ranah hukum dengan alasan permintaan orang tua yang hadir di rapat. Apa yang dikatakan Edi dari PGRI mungkin ada benarnya bahwa seorang guru bila mendapat sanksi di"kantor"kan itu sudah sangat menyiksanya dan sebagai hukuman yang paling berat.

Sementara permintaan pembawa acara meminta DPR Kota Surabaya agar menganggarkan untuk membeli lie detector dipicu adanya informasi yang beragam pro dan kontra.  Termasuk SMS yang mewarnai diskusi ini sehingga pembawa acara berharap kasus ini benar-benar terselesaikan dengan informasi dan komunikasi yang tanpa kebohongan. Clear. Tidak ada dusta di antara kita. Mungkin ide yang bagus yang harus direspon  oleh DPR Kota Surabaya. Sekarang cukup CCTV saja di setiap kelas biar apa pun yang dilakukan guru dan siswa bisa dilhat oleh siapa pun.

Kita berharap tidak ada lagi Yono-Yono yang lain muncul. Stop sampai Yono Rangkah 7 saja. Ingat Bapak/Ibu Guru ...... saat kita sudah memilih profesi sebagai guru ada konsekwensinya dan anda tahu itu. Seorang guru diminta berperilaku mirip perilaku nabi  ........ dan stop !!!!!!! Jangan mesum di kelas. Jadikan sekolah kita istana bagi para siswanya. Biarkan anak-anak masuk dan keluar dari sekolah tersenyum tanpa ada trauma. Amin


Untuk: Prita yang lagi belajar jadi guru di KI  (Nikmat kan?)
            QQ (Pagi2 naik becak asyik ya?)

Senin, 16 September 2013

Belajar dari Kasus Tabrakan Maut Dul Maia Dhani

Sebenarnya saya menahan diri untuk tidak menulis tentang kaus kecelakaan maut yang dialami Dul atau AQJ anak terkahir dari Maia dan Dhani. Saya juga tidak harus menceritakan siapa kedua orang tuanya  terlalu sangat populer rasanya hanya buang-buang waktu.  semua orang hampir mengenalnnya.

Usia Dul 13 tahun usia di persimpangan. Usianya  masih di posisi antara masa anak-anak yang harus ditinggalkan sementara gerbang remaja yang ia masuki masih belum sepenuhnya ia kenal. Dapat diibaratkan satu kaki Dul masih berada di masa anak-anak sedanggkan satu kaki lagi sudah ada di gerbang masa remaja. Pada tahapan ini Dul masih menjadi pengembara untuk mencari identitas diri, Sayangnya pencarian identitas ini harus ia lakukan lebih banyak sendiri tanpa pendampingan kedua orang tuanya. Kita tahu kedua orang tuanya telah bercerai.

Mari kita cermati waktu kecelakaan terjadi adalah saat anak-anak seumurnya terlelap tidur di rumah. Dul pergi tanpa pamit kepada ayahnya. Dul lebih memilih mengantarkan pacar daripada pergi dengan ayahnya di pesta pernikahan seorang artis.  Ada komentar dari seorang selebritis yang mengatakan bahwa kecelakaan tidak akan terjadi seandainya kedua orang tuanya tidak bercerai, hal ini memungkinkan. Dul lebih memilih "ngluyur tanpa  pamit ke ayahnya" bukankah ini simbolisasi bahwa rumah yang super mewah tidak lagi menarik untuknya.

Konon ceritanya setelah mengantarkan pacar Dul pun singgah ke rumah sang ibu, bukankah ini naluri anak ingin selalu dekat dengan ibunya? Ia merindukan Maia ibunya. Tak akan ada satupun kekuatan yang bisa membunuh rindu anak terhadap ibu sekalipun itu kemewahan. Ada rasa kasihan kepada Dul   kondisinya tertekan dalam arogansi orang dewasa. Ia mencari kebahagiaan dengan caranya dengan  punya pacar di usianya yang masih bocah entah pacaran yang bagaimana semoga  hanya cinta monyet saja.

Ada keharuan dibalik kasus ini. Foto ini sepertinya memberikan cerita bahwa sebenarnya Dul sangat rindu dan ingin selalu dekat ibunya. Secarik kertas dari pengadilan yang mengatakan hak asuh ada di ayahnya memberikan dampak yang amat buruk. Dul memberontak dengan caranya. Dul ingin diperhatikan bahwa ia ingin selalu dekat dengan sang ibu. Tangan ibunya begitu erat digenggamnya di saat-saat rasa sakit menderanya. Dul Dul kasihan kamu.

Kedua orang tuanya kompak dengan jawaban sama mengaku bahwa mereka tidak tahu kalau anaknya bisa setir mobil. Ayahnya memfasilitasi Dul mobil plus sopir. Ketidaktahuann kedua orang tua terhadap kemampuan Dul menetir mobil bisa diapahami. Hal ini bisa jadi karena kesibukkan mereka sampai tidak memperhatikan satu sisi dari tingkat perkembangan Dul. Atau memang Dul sendiri menyembunyikan kemahirannya menyetir. Harapan kita  semoga jawaban "tidak tahu" bukan jawaban pura-pura dengan maksud agar tidak dikejar pertanyaan lain baik dari polisi maupun wartawan. Semoga Dul tidak terobsesi game balapan saat menyetir.

Prinsip pendidikan yang diterima Dul dari ayahnya adalah pendidikan bebas aktif. Mungkin prinsip ini perlu disempurnakan dengan satu frase "tanggung jawab". Mendidik dengan prinsip bebas-aktif-bertanggung jawab itu lebih sempurna. Apa pun dan siapa pun  Dul harus diajarkan bagaimana bertanggung jawab. Dan sekarang momen tepat bagi Dul untuk bagaima belajar  bertanggung jawab, Bukankah ada tujuh nyawa mati sia-sia karena perbuatannya? Juga bertanggung jawab untuk keluarga yang ditinggalkannya.

Saya yakin orang tuanya mampu membiayai para profedional di bidangnya untuk membuat desain pembelajaran yang pas untuk Dul dengan materi tanggung jawab.  Memang dilihat dari usianya Dul tidak harus dihukum seperti hukuman untuk orang dewasa. Tetapi Dul tetap harus menjalani proses hukum sebagai bagian dari materi bagaimana bertanggung jawab. 

Dari kasus Dul ada beberapa hal yang bisa kita petik sebagai pembelajaran:
1. Pengawasan orang tua tetap nomor satu terhadap kegiatan anak-anaknya;
2. Hadiah apapun dari orang tua kepada anak adalah hak tetapi perlu dipikirkan untuk              mencari`hadiah   yang sesuai usia anak;
3. Banyak pakar/profesional di bidangnya  memberikan pendapat terhadap kasus Dul ini adalah peningkatan  pengetahuan bagi masyarakat;
4. Mengembalikan komunikasi tersendat menjadi lebih komunikatif bagi kedua orang tuanya.

Cepat sembuh ya Dul. jangan kauulangi ya.



Selasa, 25 Desember 2012

Dua Permpuan Kuat, Cerdas, dan Cantik di Film 5 Cm


Pevita Pearce
Pevita Pearce di film ini menjadi tokoh Dinda adik dari Arial (Deny Sumargo). Saya percaya Rizal sang sutradara paham benar mengapa memilih Pevita. Ya .... karena cantik, cerdas, dan juga kuat walaupun peran lugu tampak di film. Keluguannya tampak  di dalam dialog dengan Jafran saat berkomunikasi via telepon. "Saat kuliah kamu sering nongkrong ya ..." kata Jafran. Dengan lugunya Dinda menjawab, "Gak tuh aku kuliah duduk di kursi kok". Percakapan yang menonjolkan sisi keluguan seorang adik yang sedang ditaksir teman kakaknya. Film ini menjadi sedikit romantis karena kehadirannya. Sekalipun di akhir cerita menjadi kasih tak sampai antara dirinya dengan pemeran Jafran (Herjunot Ali). Yang jelas di 5 cm ia menjadikan Mahameru lebih indah.

Reline Shah
Perempuan kuat, cerdas, dan cantik  lainnya adalah Reline Shah untuk film ini ia harus belajar dialek Betawi dulu karena ia dibesarkan di Medan dan Singapura. Pernah meraih gelar Pavorit di Puti Indonesia 2008. Di film ini ia bagian dari lima sahabat Genta (Fredy Nuril), Ian (Igor Saikoji), Jafran, dan Arial. Berperan sebagai Riyani perempuan yang hobi banget dengan kuah mie rebus. Ianlah yang menjadi sasaran tempat ia meminta. Awal cerita tampak ia naksir tersembunyi kepada  Genta tapi kenapa diakhir cerita Genta harus bertepuk sebelah tangan. Wajah cantiknya membuat kita tidak bosan dengan 4 lelaki sahabatnya lebih tepat ia menyegarkan suasana 5 sekawan. Saat pendakian saya agak mengkhawatirkan betisnya yang kecil tetapi pengakuannya Mahameru bukan gunung pertama yang pernah ia daki. Hebat ... cerdas, cantik, dan kuat lebih tepat untuk ia dan Pevita
Add caption

Terlepas dari dua peran perempuan cerdas, kuat, dan cantik di atas film 5 cm memberi kita banyak pembelajaran bagaimana kita membangun persahabatan. Film ini mengajari kita bagaimana bertoleransi.  Bagaimana saling mengingatkan  saat sahabat belum memperoleh keberhasilan. Dengan bahasa yang sama sekali tidak menyakitkan. Seperti saat mengingatkan Ian si gendut yang belum juga lulus dari S1--nya. Juga sering mengritisi Ian yang larut dalam hobi nonton VCD bokep. Dengan gaya memotiivasi yang sama sekali tidak menyakitkan akhirnya sukses juga Ian diwisuda.
 Merawat sebuah hubungan persahabatan tidak mudah. Tetapi di film ini kita belajar bagaimana memahami seorang sahabat. Bagaimana Arial tidak memiliki keberanian saat menghadapi cewek. Tetapi akhirnya ia berhasil mendekati seorang cewek yang ditaksirnya. Hal ini tidak terlepas dari sahabat-sahabatnya yang rajin memotivasi sekaligus menaikkan konfiden Arial.

Genta lebih menjadi lead di persahabatan ini. Ia yang mempunyai ide untuk break dulu selama tiga belum untuk tidak saling ketemu. Tentu ide ini banyak ditolak teman-temannya. tapi itulah seorang pemimpin .... toh akhirnya yang lain menyetujui. Tiga bulan dalam senandung rindu untuk tidak saling bertemu.

Akhirnya Genta pula yang mengingatkan kepada teman-temannya setelah 3 bulan. Mereka janjian di Stasiun Senen dengan pesan jangan lupa membawa peralatan pada umumnya orang mau kemping. Hanya sedikit Genta mengiformasikan kegiatan apa yang akan dilakukan tetapi ia hanya ingin punya sejarah spesial yang bisa diingat untuk lima sahabat.

Petualangan pun dimulai. Berangkat berenam dengan kereta ekonomi Matarmaja dengan tujuan Malang. Dari Stasiun Malang naik mobil bak terbuka menuju Ranuyoso. Ada yang menarik penggunaan KA Matarmaja yang berkelas ekonomi agak sedikit menghapus image bahwa film Indonesia umunya glamor dan sok mewah. Film ini berbeda. Film ini juga seperti mengajak kita berwisata bagaimana indahnya Ranupane, Ranuyoso, dan Kalimati yang banyak dibicarakan di kalangan pendaki. 

Pada umumnya pendaki di awal perjalanan sangat menikmati tetapi saat kondisi sudah mulai melemah bisa saja  hal ini  menjadi pemicu sebuah perubahan karakter. Masing-masing pendaki bisa menjadi  lebih sensitif dan emosional. Tetapi di sinilah bagaimana emosi mereka diuji untuk  saling menolong, saling memotivasi, bersabar untuk menanti teman tertinggal, saling memberi perhatian saat ada yang sakit. Tetapi rasa sakit dan lelah akhirnya terlupakan saat sampai di Mahameru puncak tertinggi di Jawa. 5 cm mengajari kita bagaimana fokus untuk mencapai obsesi dan cita-cita.

Dari tokoh Ian kita belajar bahwa untuk mencintai tanah air kadang kita harus tahu lebih banyak dulu tentang tanah air yang selama ini kita tempati. Ian yang rencananya akan melanjutkan kuliah ke Menchester toh akhirnya batal karena kesadaran yang muncul setelah ia bersusah payah mencapai Puncak Mahameru. Pengalaman batinnya mengajaknya untuk tetap tinggal dan berada di Indonesia. Dan dia tidak perlu lagi ke luar negeri. Negeri ini pun patut dan layak untuk tetap dijadikan rumah kita yang  dan cinta para anak bangsa. Terima kasih




Kamis, 20 Desember 2012

bundacahaya: Ibuku Perempuan Hebat

bundacahaya: Ibuku Perempuan Hebat

Ibuku Perempuan Hebat


Ya ...... aku mengatakannya ibuku perempuan hebat. Hebat karena ia telah berjuang membesarkan aku, kakak, dan adik-adikku. Dengan segala keterbatasan yang ada ibu tetap selalu ingin memberikan yang terbaik untuk kami. Aku beruntung karena aku bisa melihat bagaimana ibu berjuang untuk membuat semua anak-anaknya  menjadi manusia-manusia merdeka, terdidik, dan mandiri. Sementara saat kecil aku terlelap dengan kemudahan dan nuansa manja di zona kasih sayang nenek-kakekku yang memang lebih enjoy. Kegiatan melihat bagaimana ibu berjuang  menjadi lebih obyektif karena aku tidak tinggal serumah.

Alhamdulillah berkat tangan kuat perempuan hebat ini kini benar-benar kami telah berada di setting goal yang sudah ibu obsesikan. Mereka telah mampu berkehidupan namun tetap ibu selalu ada di sela-sela ruang dan waktu kami. Peran ibu sekarang lebih sebagai simbol pemersatu anak-anaknya yang tersebar.  Saat tertentu semua berkumpul tujuannya satu hanya ingin melihat langsung bagaimana ibu. Ibu tidak lagi mau bepergian jauh karena memang sang perempuan hebat ini sudah mulai sering sakit. Semangatnya masih tetap seperti dulu tidak mau merepotkan yang lain karena sakitnya sehingga ia lebih suka di rumah. Entah kenapa saya lebih suka menyebut rumah ibu adalah rumah rindu ya ...... karena di sini selalu tumbuh kerinduan dari anak terhadap ibunya. Ibu yang hebat.

Berbicara masalah ibu ..... tetap sekali lagi saya katakan ibu adalah perempuan hebat. Kehebatan yang sampai sekarang saya kagumi adalah ia begitu piawai melayani kami anak-anak yang memiliki karakter beragam.  Karakter yang kadang membuat ibu menjadi marah, sebal, jengkel, tetapi juga saya percaya ada sikap kami yang membuat ibu bangga. Keberagaman karakter ini tidak membuat ia merasa kesulitan. Tangan dinginnya membuat kami memiliki kemampuan mental untuk survive. Sekalipun mungkin kalau dilihat dari kacamata sekarang mungkin ada sikap ibu yang kurang pas misalkan ibu tidak suka melihat anaknya menangis apa pun alasannya. Dulu kalau kami menangis cenderung dilarang karena menangis itu menurutnya tanda-tanda cengeng, ibu berkeinginan anak-anaknya tidak cengeng. Dan ternyata berguna sekali memang hidup ini tidak boleh cengeng dan tidak ada tempat untuk mereka yang cengeng.

Ibuku tetap perempuan hebat yang selalu kukagumi. Saat iamenanamkan nilai-nilai untuk anak-anaknya ia mengunakan pendekatan "pertemanan" tak ada sama sekali  kesan menggurui. Ia bukan guru namun ia paham metode bagaimana sebuah nilai harus ditanamkan. Ia tidak paham paedogogik tetapi ia akan bercerita dengan gaya komparasi, pembanding, dan contoh yang ada di sekitar terdekat. Metode bercerita sudah ia terapkan dibumbui dengan ibarat dan perumpaan .... mengasyikan kalau ibu bercerita. Bagiku ia pendongeng hebat. Ia tidak merasa terganggu saat ada yang memotong ceritanya hanya sekedar untuk bertanya dan dengan ringannya ia menjawab pertanyaan itu sehingga cerita semakin mudah dicerna. Sayang saat anak-anakku TK dulu cerita ibu sudah tercemari dengan tokoh-tokoh mistik seperti teluh, banaspati dsb. Aku kaget saat anak-anakku tahu hal ini. Positif thinking saja anak-anakku menjadi tambah pengetahuan.

Untuk perempuan yang hebat ini ada satu pesan yang sampai sekarang tetap diusahakan sebagai pedoman. Ia berpesan bahwa kehidupan itu tidak lebih seperti orang berjalan. Perjalanan itu tidak selamanya mulus mungkin saja ada lubang, ada kerikil, ada komentar, ada ranting yang mungkin membuat kepala kita terganggu, dan mungkin ada yang lainnya. Oleh karenanya saat kita berjalan tetaplah pandangan fokus ke depan. Jangan lupa sekali-kali tengok ke bawah dan sekali-kali tengoklah ke atas. Tidak boleh terus menunduk ke bawah tetapi juga tidak boleh terus-terusan mendongak  ke atas.Ternyata rentetan perumpaan itu memiliki makna filosofi yang cukup lumayan bernas. Makna filosofis yang bisa kita maknai adalah 1) Berjalanlah dengan pandangan fokus ke depan artinya di depan ada cita-cita yang harus dicapai dan membutuhkan keseriusan; 2) Sekali-kali tengoklah ke bawah artinya bahwa melihat ke bawah adalah melihat orang-orang yang bernasib kurang beruntung hal ini bertujuan menumbuhkan rasa syukur bahwa kita masih lebih beruntung. 3) Sekali-kali menengoklah ke atas artinya di atas adalah tempat orang-orang yang lebih sukses mendongaklah belajarlah bagaimana mereka bisa berhasil. Hal ini lebih untuk memotivasi agar mereka bisa sukses.

Ibuku perempuan hebat .................. terima kasih telah membesarkan, merawat, dan mendidik kami. Kami menjadi besar, kami menjadi kuat, kami menjadi terdidik tak lepas dari perjuanganmu. Tak satu pun benda yang bisa kuberikan setara nominal yang telah kami terima dari semua usahamu. Hanya terima kasih dan kekaguman yang bisa dipersembahkan untukmu Bu. Dan bagiku ibu adalah perempuan hebat yang selalu menginspirasi. Semoga ibu selalu sehat dan selalu baik-baik saja.

(Hari Ibu 2012 ...... untuk adik-adikku: Wa Anah, Insan, Lukman, Uus, Nining, Yana, dan anak-anakku Prita-Rizqi)


Senin, 03 Desember 2012

Surat Terbuka Untuk Pak Aceng Bupati Garut

Bupati Garut Pak Aceng HM Fikri (Hasil Gooling)

Assalammualaikum War.Wab. 
Selamat malam .....................
Pak Aceng Apa khabar? Semoga Pak Aceng baik-baik saja ya Pak. Saya suka dengan nama Bapak yang simpel dan mudah diingat. Saya juga suka dengan jabatan Bapak selaku Bupati di salah satu kabupaten di Jawa Barat ini mengidentikan anda seorang pemimpin bagi rakyatnya atau rakyat yang memilih anda.. Sebagai bupati tentunya Pak Aceng adalah orang yang "smart" minimal dalam hal mengatur strategi agar rakyat mau memilih Pak Aceng saat pilkada yang lalu. Hal lain dari yang saya suka adalah penampilan Pak Aceng saat berpeci hitam (seperti foto di atas) tampak sekali "Indonesia"nya sekaligus makhluk yang tampak cukup "religius" namun sekaligus mengingatkan saya dengan foto Aidit di buku sejarah saat saya masih sekolah. Sori ya Pak bukan saya menyamakan DN Aidit dengan anda namun inilah yang terlintas di benak saya.

Pak Aceng yang baik,
Saat Dicky Chandra mengundurkan diri saya termasuk orang yang tidak peduli. Namun sekarang saya agak sedikit menoleh untuk memikirkan "Mengapa Dicky Chandra mundur dan tak mau lagi berdampingan dengan anda?". Beberapa media memberi saya sedikit pengetahuan tentang mengapa Dicky mundur tetapi sama sekali itupun tidak memberi saya jawaban. Saya ingin  mendapat jawaban yang memuaskan yang bisa membuat saya berteriak, "Oh ..... karena itu toh Dicky mundur?". Keterpurukan anda sekarang sebenarnya peluang Dicky untuk kembali kekancah politik atau harapan saya Dicky  bisa kembali memimpin rakyat Garut. Tetapi tampaknya Dicky tidak mau mencalonkan lagi sebagai bupati maupun wakil bupati ...... sayang ya Dicky tidak mau lagi memimpin Garut. Sekalipun akhirnya saya tahu Dicky tidak mau karena memang ia tidak punya uang dan dia tidak ingin menggunakan sponsor untuk sumber dana. Mengapa Dcky "ogah" pakai sponsor secara tidak langsung Dicky tidak ingin jadi pimpinan yang di sampingnya ada pimpinan bayangan. OK Dicky ..... itu hak anda tetapi manusia setiap saat bisa berubah. Dan Anda pun punya hak untuk mengubah jawaban yang terlontar hari ini.

Pak Aceng yang tetap saya hormati ........
Bagaimana khabar Fani Octora mantan istri siri Pak Aceng? Saya memastikan jawaban anda adalah tidak tahu atau tidak mau tahu. Iya kan Pak? Tetapi yang jelas Fani telah membuat anda "galau dan gelisah" ..... sori kadang sok tahu saya muncul. Fani membuat anda diburu oleh banyak wartawan, Gubernur Jabar pun memanggil anda malam ini, Istana pun berkomentar dan menunggu berita dari Mendagri, lalu ....... banyak orang mempertanyakan sikap anda terhadap Fani. Saya percaya deh anda galau sekalipun Priyo dari Golkar mengomentari tentang kasus anda bahwa setiap orang memiliki standar moral yang berbeda. He ..... he .... he ..... Cak Priyo komentarmu wis dipikirno tah?

Pak Aceng yang diharapkan bisa bijaksana ........
Ada seorang gadis remaja bertanya dan mengomentari kasus anda, "Jangan-jangan Bupati Garet itu tidak paham gender?" katanya. Kalau anda tidak terima dengan pertanyaan itu tulis saja jawaban di surat ya Pak. Sori untuk yang kedua kalinya. Dari kasus anda dengan Fani mengundang reaksi banyak kalangan beberapa hal yang dipertanyakan tentang kasus anda:
1) Perkawinan anda dengan Fani adalah hak anda cuma sangat disayangkan anda coba-coba    dengan bernaung dibalik tirai "siri". Sadarkah anda saat melakukan pernikahan ini?,  2) Perkawinan siri adalah perkawinan yang sah secara agama,pahamkah apa  yang sedang anda lakukan?Dengan lebel bupati yang anda sandang tidak berarti anda boleh 
"main/mempermainkan aturan agama". Kecuali anda memang ingin dicibir banyak orang, 3) Alasan anda menceraikan Fani karena Fani sudah tidak "perawan lagi". Dinikahi hanya empat (4) hari dan diceraikan lewat SMS. Astagfirllah ......  istigfar   ya Pak, anda pemimpin apa  yang  anda lakukan akan menjadi sorotan semua pihak. Cara yang anda lakukan sangat tidak pantas dilakukan seorang pemimpin, 5) Populeritas anda akhir-akhir ini naik tetapi bukan karena keberhasilan anda memimpin Garut. Sangat disayangkan populeritas anda naik hanya karena urusan perempuan atau lebih karena urusan syahwat. jangan lupa istigfar ya Pak, 6) Dicky Chandra telah meminta maaf untuk masyarakat Garut karena malu dengan perilaku anda yang terekspos secara nasional.Saya percaya hati kecil anda ingin berbuat  seperti  Dicky tetapi mungkin masih ada dalam tabir gengsi. Kesadaran anda ditunggu ya Pak Aceng, dan 7) Pak Aceng, saya percaya ibu anda seorang perempuan. Pertanyaan saya, bagaimana seandainya Ibu anda ada yang memperlakukan seperti anda memperlakukan seperti Fani saat ini?

Pak Aceng yang saya harapkan  tetap berhati  mulia,
Sori ya pak surat terbuka ini saya tulis karena ruang tempat saya bebas membaca  berupa hamparan tulisan dari berbagai media telah diserobot berita tentang anda. Dan saya ingin meresponnya. Pesan saya perlakukanlah perempuan dengan baik seperti agama mengajarkan kita. Tak ada manusia yang tidak pernah salah ... Pak, jadikan semua ini pembelajaran yang berguna. Selamat bertugas Pak Aceng. Terima kasih.
     
   

 Surabaya, 3 Desember 2012

          BC

             

 


Selasa, 13 November 2012

Rafting di Kaliwatu Batu, Mangasyikan


Mengasyikan itu kata yang tepat saat mengikuti rafting di Kaliwatu Batu. Peserta evaluasi dan sinkronisasi Program PFNI Dinas pendidikan Jawa Timur difasilitasi untuk mengikuti kegitan ini. Sayang banyak peserta yang tidak tergerak untuk mengikutinya. Beberapa ibu yang kamarnya dekat dengan saya awalnya "ogah-ogahan" sengaja saya profokasi untuk ikut. Alhamdulillah 2 ibu akhirnya ikut. Gambar di atas saat menunggu dua ibu  yang siap berangkat.
 Sementara gambar samping adalah persiapan peserta menuju base camp untuk rafting. Bukan sedan atau kendaraan mewah lainnnya yang dijadikan alat transportasi menuju base camp melainkan pick up terbuka. Sebenarnya ada rasa was-was saat menaiki kendaraan bak terbuka ini besi pengaman yang sekaligus berfungsi sebagai pegangan tangan penumpangnya sering berbunyi "kreyat-kreyot" dan kadang bergoyang. Apalagi saat pulang hujan besar mengguyur kami terapi wipper mobil ini mencuat kjalane atas tidak menempel di kaca depan sang sopir saya membayangkan betapa sopir kerepotan melihat . Belumlagi jalanan yang naik, turun, menikung, dan sempit lenkap sudah sebagai soal "uji nyali" Tetapi Alhamdulillah disamping kepiawaian kru "Kaliwatu Rafting" yang "OK" juga Kebesaran Illahi Rabbi sampailah kami ke hotel dengan selamat. Alhamdulillah ....... dengan kondisi baju yang basah kuyup dan badan menggigil karena dingin.


"Semangat" kata Bu Asri kepala seksi di PNFI Dinas Pendidikan Jawa Timur. Ada yang saya kagumi dari perempuan satu ini, beliau "smart". Dan jiwa asertifnya yang kadang membuat siapa pun menjadi respek kepada beliau. hati-hati dengan para perokok karena dari beberapa kalimat yang sering terlontar darinya ia sangat tidak setuju dengan kegiatan merokok. Kalau mau tanya tentang gender beliau orang yang paling tepat sebagai nara sumber. saat rafting saya termasuk orang yang memberi cipratan air karena selama kegiatan tampak diam dan bajunya kok tampak belum bash akhirnya muncul "keusilan: untuk mencipratinya. Sekalipun saya tahu dialah orAng pertama yang turun ke sungai saat rombongan lain masih berada di bibir sungai.

      Di basecamp Kaliwatu rafting peserta mendapat banyak penjelasan teknis sebagai bekal saat berkegiatan. Peserta diberi bimbingan teknik oleh Mas Wareng yang lucu  dimulai dari cara menggunakan dayung. Saya baru tahu kalau aba-aba "maju"  ternyata pendayung harus meletakan dayungnya di belakang dan sebaliknya. Sementara cara memegang dayng yang benar adalah ibu jari kita diletakkan di bawah pengait pegangan. Fungsi pelampung lebih untuk pengaman apalagi bagi mereka yang tidak bisa berenang. Intinya yang penting tidak panik dan tetap mengikuti arahan di bintek tadi. 

Pada saat briefing untuk teknik rafting ada satu hal yang menarik. Mas Wareng selaku koordinator kru kaliwatu Rafting memotivasi peserta bahwa kedatangan peserta ke Kaliwatu untuk bersenang-senang sambil mengangkat lengan kanan dan jarinya digerakan bagai seekor ular sedang berjalan. Lalu dengan semangat dan riang dilanjutkan dengan perintah tatap mata teman terdekatnya lalu tunjukkan telunjuknya ke atas nyanyikan, "tang ting ting tang ting tong" mendengar suara ini mereka pun tersenyum bahkan ada yang tertawa. Ya ..... tertawa tersenyum adalah indikator kita sedang "bersenang-senang".

      
 Di kegiatan ini lebih banyak senyum dan tawa. Ada fenomena  egaliter tak ada lagi lebel jabatan dan anak buah, Lepas sementara gaya "jaim/jaga imaje". Entah sadar atau memang benar-benar ingin "bersenang-senang" seorang bapak berenang dan bermain air saat perahu kami transit sementara untuk istirahat. Sementara beberapa perahu terbalik karena sengaja dibalikkan oleh perahu milik rekannya. Muncul kebersamaan. Sekaklipun masih ada seorang ibu yang selalu berpegangan di paha saya dan tak sabaran untuk segera pulang. Saya hanya mengatakan, "kasihan ibu ini tidak dapat menikmati". Riang dan menyenangkan seharusnya momentum ini terjaga terus sampai di tempat kerja. Karena rasa gembira dan menyenangkan adalah modal yang sangat berguna karena berdampak meningkatkan  kinerja seseorang.


         Rafting hanyalah sebuah media untuk berkegiatan bersama. Media ini sebenarnya jauh lebih memilkiki manfaat untuk kepentingan organisasi bila didesain lebih cermat dan penuh perhitungan. Dari kegiatan ini kita bisa medapat  pengalaman dengan tujuan membuka wawasan baru yang namanya "perubahan" setiap anggota organisasi. Desain mini kegiatan di rafting bisa dijadikan simbolisasi bahwa adanya kegembiraan, egaliterian, kebersamaan, keberanian, dipadukan satu satu menjadi sebuah persepsi yang untuk modal kita meraih cita-cita organisasi.


           Mengapa di kegiatan rafting ini bernuansa kebersamaan? Ya ..... ada kebersamaan hal ini disebabkan peserta merasa dalam satu kegiatan. Dalam kegiatan ada rasa yang sama yaitu penasaran. Ada rasa takut melihat aliran sungai dengan batuan besar yang bagi orang kota pemandangan ini tidak familiar. Dan rasa takut lain misal perahu terbalik, kepala terantuk batu atau hal-hal yang mencemaskan lainnya. Ada kebersamaan bagaimana mengelola rasa takut bersama-sama. Sekalipun akhirnya rasa takut berubah menjadi hal yang menyenangkan.
            Hal lain yang bisa didapat dari kegiatan ini adalah membangkitkan rasa berani. Pada dasarnya setiap orang sudah dibekali rasa "berani" sayangnya "rasa" ini karena  sesuatu hal sering tersembunyi. Sekali waktu keberanian ini harus dimunculkan. Keberanian sebenarnya dapat berfungsi membantu memunculkan jiwa asertif. Jiwa asertif adalah sikap tegas. Tanpa keberanian sikap tegas tak akan pernah ke permukaan yang pada akhirnya kita menjadi manusia "kerdil" yang bisanya menggerutu di belakang karena tidak berdaya untuk menolak suatu kebijakan.
           Mendesain kegiatan rafting untuk kepentingan organisasi bukan hal yang tidak mungkin. dengan kegiatan ini  budaya organisasi yang diinginkan akan berjalan dengan baik dan akan sukses mencapai cita-cita yang diinginkan organisasi. Di kegiatan ini anggota organisasi bisa bersama-sama secara sadar untuk memperrat silaturahim dengan tujuan menyamakan persepsi dan merapatkan barisan untuk bedrgerak serempak menggapai cita. Terima kasih Panitia Evaluasi dan Sinkronisasi PNFI Dinas pendidikan Jatim.